Mengenal Madinah bersama Umroh Plus

Aku beruntung bisa mengenal Madinah secara mendalam, sebagaimana dijelaskan diatas ini semua berkat mengikuti umroh plus yang sangat terpercaya dan murah. Pengetahuanku tentang Madinah membuatku semakin rajin dan giat lagi untuk membaca buku-buku yang tersimpan di perpustakaan.

Dalam pikiranku, jangan sampai orang lain lebih tahu tentang khazanah keislaman. Sementara umat Islam tidak mampu menjadikan khazanah keislaman klasik sebagai elan kemajuan bagi dirinya sendiri. Meminjam istilah Ibnu Khaldun, jangan sampai umat Islam melupakan sejarah dan peradabannya sendiri. Seperti kata pepatah, gajah di pelupuk mata tidak tampak, sedangkan semut di tengah lautan tampak.

Tantangan yang mengemuka sekarang adalah mengenali khazanah keislaman dengan sangat baik sembari mengambil hikmah yang sebesar-besarnya dari setiap petikan sejarah tersebut. Tuhan mengajarkan kita agar mengambil hikmah dari peristiwa masa lalu sebagai bekal untuk kebaikan masa kini dan masa mendatang. Allah SWT berfirman didalam Al Quran, Hendaklah setiap jiwa melihat apa yang terjadi di masa lalu untuk cermin di hari esok (QS. Al-Hasyr [59] : 18).

Madinah merupakan cermin yang sangat baik untuk membangun kembali puing-puing kehancuran yang dihadapi oleh hampir sebagian besar umat Islam. Memang ada sebuah kelompok yang kerapkali mendengung-dengungkan Piagam Madinah, tetapi mereka hanya menjadikan hal tersebut sebagai slogan politik di satu sisi, dan melupakan realitas kebhinekaan di sisi lain.

Sayang seribu sayang, setelah wafatnya Cak Nur, tidak ada lagi kelompok Muslin di tanah air yang secara serius menghidupkan kembali “Peradaban Madinah” sebagai inspirasi untuk menjawab problem ketegangan antara agama dan Negara yang beberapa tahun terakhir masih menjadi perbincangan yang serius.

Maka dari itu, aku sangat terpanggil untuk merekonstruksi peradaban Madinah dengan memberikan penjelasan yang lebih elaborative perihal pernik-pernik yang menjadi keunggulan Madinah, setidaknya jika dibandingkan dengan Mekkah. Kedua kota suci ini, baik Mekkah dan Madinah telah menjadi kota tujuan setiap Muslim dari berbagai penjuru dunia. Setiap tahun ada jutaan umat Islam yang berziarah ke dua kota suci tersebut.

Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan, bahwa setiap tahun kita mempunyai duta-duta dan alumni mereka yang melakukan perjalanan spiritual ke Mekkah dan Madinah bersama aswaja syariah travel. Tetapi, satu hal yang selalu menjadi pertanyaan kita semua, kenapa perjalanan spiritual tersebut tidak menyisakan makna dan dampak konstruktif bagi tatanan kebangsaan dan kemasyarakatan kita?

Setidaknya dalam beberapa tahun terakhir, kita masih melihat begitu banyak masalah yang dihadapi oleh umat di negeri yang tercinta ini. Perilaku koruptif dan tindakan kekerasan masih menjadi masalah serius. Padahal sebagian dari mereka yang melakukan tindakan tidak berperikemanusiaan itu adalah mereka yang sudah melakukan perjalanan spiritual ke Mekkah dan Madinah.

Di sinilah, ingatanku mundur ke belakang saat aku masih kuliah di Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir. Aku merasa bahwa pengetahuan dan pengalaman yang begitu berharga itu harus disedekahkan kepada orang lain agar mereka juga mempunyai pengertian yang baik tentang Madinah. Memang tidak mudah untuk mengenali Madinah, karena tidak banyak buku yang secara khusus dan serius membedah tentang Madinah.

Tidak hanya itu, seperti bukuku tentang Mekkah, aku akan memadukan antara pengalaman pribadiku dengan pengetahuan tentang Madinah. Kombinasi antara keduanya akan melahirkan sebuah pemaknaan dan penghayatan yang kuat untuk dibagikan kepada para pembaca.

Begitulah pengalamanku selama di Kairo, sehingga akhirnya aku berkesempatan untuk menunaikan ibadah haji pada tahun 1998. Seperti orang lain yang juga melaksanakan ibadah haji, aku juga berkesempatan untuk berziarah ke Madinah. Sebuah pengalaman yang sangat berharga, karena pengetahuaku tentang Madinah akan dikonfirmasikan dengan realitas sosial masyarakat yang benar-benar nyata. Kini, mimpi dan imaji tersebut telah menjadi kenyataan.

 

Leave a Reply